Sanitasi yang layak adalah hak dasar setiap warga negara. Pemerintah Indonesia telah meluncurkan berbagai program sanitasi nasional, namun pertanyaannya: apakah program ini sudah merata menjangkau seluruh wilayah, dari kota besar hingga pelosok desa?
Tujuan Utama Program Sanitasi Nasional
Program sanitasi nasional seperti STBM, PAMSIMAS, dan Sanimas bertujuan menyediakan akses air bersih, toilet sehat, serta perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Ketiganya menjadi pilar dalam upaya mengurangi penyakit berbasis lingkungan.
Kemajuan Signifikan dalam Akses Air dan Toilet
Hingga 2023, sekitar 91% masyarakat Indonesia telah memiliki akses terhadap air minum layak, dan 80,9% sudah memiliki akses terhadap sanitasi layak. Ini menunjukkan peningkatan signifikan dibanding satu dekade lalu, meskipun belum sepenuhnya merata.
Wilayah Perkotaan vs Pedesaan
Sayangnya, ada kesenjangan nyata antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Akses sanitasi di kota relatif lebih baik dibanding desa, di mana banyak daerah masih mengandalkan sumber air tidak terlindungi dan praktik buang air besar sembarangan.
Daerah Tertinggal Masih Rentan
Wilayah timur Indonesia seperti Papua, Maluku, dan sebagian Nusa Tenggara masih menghadapi tantangan besar dalam hal infrastruktur sanitasi. Minimnya akses jalan, transportasi logistik, dan dukungan anggaran daerah memperlambat implementasi program nasional.
STBM dan Perubahan Perilaku
Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) menjadi ujung tombak dalam merubah kebiasaan buang air besar sembarangan. Namun, perubahan perilaku membutuhkan waktu, edukasi intensif, dan peran aktif tokoh masyarakat yang tidak selalu tersedia di setiap wilayah.
PAMSIMAS dan Keterlibatan Komunitas
Program PAMSIMAS menitikberatkan pada pengelolaan air dan sanitasi berbasis masyarakat. Meski menjangkau lebih dari 27.000 desa, masih ada puluhan ribu desa lain yang belum tersentuh program ini secara menyeluruh.
Hambatan Infrastruktur dan Anggaran
Salah satu kendala utama dalam pemerataan program sanitasi adalah keterbatasan infrastruktur, terutama di daerah terpencil. Ditambah lagi, alokasi anggaran sanitasi di banyak kabupaten masih rendah dibanding sektor lain.
IPAL dan Pengolahan Limbah Masih Minim
Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) belum banyak dimiliki oleh kota-kota kecil dan menengah. Banyak limbah rumah tangga dibuang langsung ke sungai, yang menyebabkan pencemaran dan memperburuk masalah kesehatan lingkungan.
Tantangan Sosial dan Budaya
Selain infrastruktur, tantangan budaya juga memengaruhi efektivitas program sanitasi. Di beberapa daerah, praktik buang air besar sembarangan masih dianggap biasa, bahkan di kalangan masyarakat yang sudah memiliki toilet di rumah.
Inklusi untuk Disabilitas dan Perempuan
Sanitasi yang inklusif belum sepenuhnya terwujud. Banyak toilet umum tidak ramah disabilitas dan tidak menyediakan fasilitas yang aman serta nyaman bagi perempuan dan anak perempuan, terutama di sekolah dan tempat umum.
Kolaborasi Pemerintah dan Swasta
Untuk mempercepat cakupan sanitasi, kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan LSM sangat diperlukan. Pendekatan multi-sektoral ini sudah mulai dilakukan, namun skalanya masih terbatas dan perlu diperluas.
Peran Penting Kepala Daerah
Komitmen kepala daerah menjadi kunci keberhasilan implementasi program sanitasi. Daerah yang kepala daerahnya proaktif biasanya mencatatkan kemajuan signifikan, sementara daerah yang pasif cenderung tertinggal.
Capaian dan Target 2030
Pemerintah menargetkan akses universal air minum dan sanitasi layak tercapai pada 2030. Melihat capaian saat ini, target tersebut masih membutuhkan percepatan melalui penguatan kebijakan, pendanaan, serta edukasi masyarakat.
Kesimpulan: Masih Ada PR Besar
Meskipun program sanitasi nasional telah membawa perubahan positif di banyak wilayah, pemerataan masih menjadi tantangan besar. Upaya bersama, dari pusat hingga desa, sangat penting agar seluruh warga bisa hidup di lingkungan yang bersih, sehat, dan bermartabat.
