Salah satu kesalahan umum adalah pengambilan sampel darah tanpa melakukan verifikasi identitas pasien secara benar. Kesalahan ini bisa menyebabkan tertukarnya sampel dan diagnosis yang salah. Solusinya adalah dengan menerapkan protokol standar: selalu konfirmasi nama dan tanggal lahir sebelum prosedur dimulai.
Pemilihan Vena yang Tidak Tepat
Kesalahan dalam memilih lokasi vena yang tepat bisa menyebabkan kegagalan tusukan atau hematoma. Vena median cubital biasanya menjadi pilihan utama karena letaknya yang stabil. Hindari vena yang kecil, sulit terlihat, atau berada di dekat arteri.
Penggunaan Ukuran Jarum yang Salah
Penggunaan jarum yang terlalu besar atau kecil bisa menyebabkan cedera pada pembuluh darah atau kerusakan sel darah. Oleh karena itu, penting memilih gauge jarum yang sesuai dengan usia pasien dan volume darah yang dibutuhkan.
Tidak Memastikan Alat dalam Keadaan Steril
Kadang tenaga medis tidak sadar bahwa kemasan venipuncture set sudah terbuka atau rusak. Ini bisa mengakibatkan infeksi. Solusinya adalah selalu melakukan inspeksi visual sebelum membuka kemasan dan tidak menggunakan alat yang kemasannya rusak.
Posisi Tangan yang Tidak Stabil
Kesalahan dalam posisi tangan saat memasukkan jarum dapat menyebabkan jarum bergeser atau gagal masuk ke dalam vena. Posisi tangan yang stabil dan dukungan yang baik selama prosedur dapat mencegah kesalahan ini.
Mengabaikan Penggunaan Tourniquet yang Tepat
Tourniquet yang dipasang terlalu lama atau terlalu kencang dapat menyebabkan hemolisis atau hasil tes yang tidak akurat. Idealnya, tourniquet tidak dipasang lebih dari satu menit, dan dilepas segera setelah darah mulai mengalir.
Kurangnya Komunikasi dengan Pasien
Beberapa tenaga medis tidak menjelaskan prosedur kepada pasien sebelum melakukan venipuncture. Hal ini dapat membuat pasien panik dan bergerak tiba-tiba. Komunikasi yang baik membantu pasien tetap tenang dan prosedur berjalan lancar.
Salah Menyisipkan Jarum
Salah satu kesalahan teknis paling sering adalah menyisipkan jarum dengan sudut yang salah. Idealnya, sudut tusukan sekitar 15–30 derajat. Jarum yang terlalu dangkal atau dalam bisa menyebabkan kegagalan dan nyeri berlebihan.
Tidak Memperhatikan Aliran Darah
Kadang aliran darah tidak keluar meskipun jarum sudah masuk ke dalam vena. Hal ini bisa disebabkan oleh posisi jarum yang tidak tepat atau vena yang kolaps. Segera periksa posisi jarum atau ganti lokasi jika perlu.
Terlalu Cepat atau Terlalu Lambat Menarik Tabung
Menarik tabung vakum terlalu cepat bisa menyebabkan hisapan yang terlalu kuat dan hemolisis, sementara menariknya terlalu lambat bisa membuat darah tidak mengalir dengan baik. Tarik tabung secara mantap dan stabil untuk hasil optimal.
Kurang Hati-Hati Saat Melepas Jarum
Jika jarum dilepas terlalu cepat tanpa menekan lokasi tusukan, bisa timbul memar atau pendarahan. Setelah jarum ditarik, selalu tekan bekas tusukan dengan kasa steril setidaknya selama 1–2 menit.
Tidak Menggunakan Alat Pelindung Diri (APD)
Beberapa tenaga medis lalai menggunakan sarung tangan atau alat pelindung diri lainnya. Ini sangat berisiko terhadap penularan infeksi, baik bagi pasien maupun petugas. Penggunaan APD harus menjadi standar dalam semua prosedur pengambilan darah.
Gagal Membuang Alat Bekas Pakai dengan Aman
Kesalahan lain adalah tidak membuang jarum dan tabung bekas ke tempat pembuangan tajam (sharp container). Jarum yang dibuang sembarangan bisa melukai orang lain atau menyebabkan kontaminasi silang.
Tidak Mendokumentasikan Prosedur dengan Baik
Setelah prosedur, pencatatan yang kurang lengkap seperti waktu pengambilan darah, lokasi vena, atau reaksi pasien bisa mengganggu proses diagnostik. Dokumentasi lengkap adalah bagian dari tanggung jawab profesional tenaga medis.
Tidak Melakukan Evaluasi Pasca-Prosedur
Banyak yang langsung meninggalkan pasien tanpa memantau reaksi pasca-venipuncture. Padahal, beberapa pasien mungkin mengalami pusing, nyeri, atau reaksi lain. Selalu luangkan waktu 1–2 menit untuk memastikan pasien dalam kondisi stabil setelah prosedur.
