Blood culture atau kultur darah adalah pemeriksaan penting untuk mendeteksi infeksi dalam aliran darah, terutama sepsis. Namun, akurasi hasil sangat bergantung pada prosedur pelaksanaan yang tepat. Sayangnya, kesalahan teknis masih sering terjadi dan dapat berdampak serius terhadap diagnosis dan penanganan pasien.
Kesalahan Volume Darah yang Tidak Sesuai
Salah satu kesalahan paling umum adalah pengambilan volume darah yang terlalu sedikit. Volume darah yang kurang dari yang direkomendasikan (biasanya 8ā10 mL per botol untuk dewasa) dapat menurunkan sensitivitas deteksi mikroorganisme. Solusinya adalah memastikan petugas terlatih mengenai standar volume ideal berdasarkan usia pasien.
Waktu Pengambilan yang Tidak Tepat
Waktu terbaik untuk pengambilan sampel adalah saat puncak demam atau gejala sepsis, karena patogen biasanya sedang dalam fase sirkulasi tertinggi. Mengambil sampel setelah pemberian antibiotik atau pada waktu acak bisa menyebabkan hasil negatif palsu. Maka, pengambilan sebaiknya dilakukan sebelum antibiotik diberikan.
Teknik Aseptik yang Tidak Optimal
Kontaminasi merupakan kesalahan serius yang sering terjadi akibat teknik aseptik yang tidak memadai. Kontaminasi dapat menyebabkan hasil positif palsu dan pengobatan yang tidak perlu. Pencegahannya adalah dengan melakukan disinfeksi kulit menyeluruh dan menggunakan sarung tangan steril.
Salah Identifikasi Lokasi Pengambilan
Mengambil darah dari infus line atau kateter vena sentral tanpa prosedur khusus bisa menghasilkan kontaminasi silang. Idealnya, darah untuk kultur diambil dari vena perifer dengan teknik venipunktur yang bersih. Jika harus melalui kateter, maka harus dibarengi pengambilan dari lokasi lain sebagai pembanding.
Tidak Menggunakan Set Botol Lengkap
Kadang hanya satu botol kultur yang digunakan, padahal standar praktik merekomendasikan satu set terdiri dari botol aerob dan anaerob. Mengabaikan botol anaerob dapat menyebabkan kegagalan mendeteksi mikroorganisme anaerob, yang penting dalam kasus infeksi intra-abdomen atau abses.
Kurangnya Jumlah Set Kultur
Pengambilan satu set kultur darah saja bisa menyebabkan hasil yang tidak representatif. Protokol menyarankan dua hingga tiga set dari lokasi dan waktu berbeda untuk meningkatkan keakuratan serta mendeteksi kontaminasi.
Penundaan dalam Pengiriman Sampel
Sampel darah yang tidak segera dikirim ke laboratorium atau dibiarkan pada suhu ruang terlalu lama bisa memengaruhi pertumbuhan mikroorganisme. Untuk menghindarinya, pengiriman ke inkubator harus dilakukan sesegera mungkin, idealnya dalam waktu kurang dari 2 jam.
Salah Label atau Salah Identifikasi Pasien
Kesalahan administratif seperti salah label botol atau identifikasi pasien bisa sangat fatal. Gunakan label barcode dan sistem verifikasi ganda (two-identifier system) agar hasil laboratorium sesuai dengan pasien yang tepat.
Pemakaian Antiseptik yang Salah
Penggunaan alkohol 70% saja tanpa chlorhexidine atau iodine tidak cukup efektif dalam membunuh flora kulit. Gunakan kombinasi disinfektan yang direkomendasikan dan pastikan antiseptik dibiarkan mengering sebelum tusukan dilakukan.
Tidak Melaporkan Informasi Klinis
Kurangnya informasi klinis pada formulir pengantar seperti waktu demam, penggunaan antibiotik, atau dugaan diagnosis bisa menyulitkan interpretasi hasil. Solusinya, formulir permintaan pemeriksaan harus diisi lengkap dan disertai informasi klinis yang relevan.
Penggunaan Jarum Ukuran Tidak Tepat
Jarum dengan diameter kecil bisa merusak sel darah dan menghambat pertumbuhan bakteri. Gunakan jarum berukuran standar (21Gā23G) untuk memastikan aliran darah yang lancar dan minim trauma.
Tidak Melakukan Kalibrasi atau Cek Kualitas Botol
Botol kultur yang kedaluwarsa, rusak, atau tidak tersimpan pada suhu yang sesuai bisa memengaruhi hasil. Pastikan penggunaan botol sesuai tanggal kedaluwarsa dan disimpan di tempat sejuk sesuai petunjuk pabrik.
Mengabaikan Pelatihan Rutin Petugas
Kurangnya pelatihan dan pembaruan pengetahuan menyebabkan standar prosedur tidak dijalankan secara konsisten. Solusinya adalah dengan mengadakan pelatihan rutin dan audit berkala untuk memastikan praktik terbaik dijalankan.
Tidak Mengevaluasi Hasil Secara Klinis
Kadang hasil positif langsung dianggap sebagai infeksi tanpa mempertimbangkan konteks klinis. Hal ini bisa menyebabkan overdiagnosis dan overprescribing antibiotik. Penting untuk mengintegrasikan hasil laboratorium dengan data klinis pasien.
Kesimpulan: Presisi Dimulai dari Prosedur Dasar
Kesalahan dalam pemeriksaan blood culture bisa berdampak besar pada keselamatan pasien dan keputusan terapi. Dengan memahami dan mencegah kesalahan-kesalahan umum ini, tenaga medis dapat meningkatkan akurasi diagnosis, efisiensi pengobatan, dan menurunkan risiko resistensi antibiotik.
