Pengumpulan urin 24 jam adalah prosedur yang sering dilakukan untuk menganalisis fungsi ginjal, metabolisme, dan berbagai kondisi medis lain.

Cara Menggunakan Preservative dalam Pemeriksaan Urin 24 Jam

Pengumpulan urin 24 jam adalah prosedur yang sering dilakukan untuk menganalisis fungsi ginjal, metabolisme, dan berbagai kondisi medis lain. Namun, agar hasil pemeriksaan akurat, sampel harus tetap stabil sepanjang waktu pengumpulan. Salah satu cara menjaganya adalah dengan menambahkan preservative yang sesuai.

Apa Itu Preservative?

Preservative adalah zat tambahan yang berfungsi mencegah perubahan kimia atau biologis pada sampel urin. Zat ini menjaga komponen penting agar tidak rusak atau berubah akibat suhu, oksidasi, maupun pertumbuhan bakteri.

Kapan Preservative Diperlukan?

Tidak semua pemeriksaan urin 24 jam memerlukan preservative. Beberapa cukup dengan pendinginan di kulkas. Namun, untuk analisis zat yang mudah rusak, seperti hormon, protein, atau elektrolit, preservative menjadi wajib digunakan.

Jenis Preservative yang Umum Dipakai

Laboratorium biasanya menggunakan asam borat, HCl, formalin, timol, toluene, atau natrium karbonat. Pemilihannya tergantung pada jenis pemeriksaan yang diminta dokter. Karena itu, pasien harus mengikuti arahan laboratorium dengan cermat.

Persiapan Sebelum Penggunaan

Sebelum memulai pengumpulan, pasien akan diberikan wadah khusus yang sudah berisi preservative. Wadah ini biasanya diberi label dan instruksi penggunaan, termasuk larangan membuka atau membuang cairan pengawet di dalamnya.

Langkah Awal Pengumpulan

Pada hari pertama, pasien membuang urin pertama di pagi hari dan mulai mengumpulkan urin berikutnya dalam wadah berisi preservative. Proses ini dilanjutkan selama 24 jam penuh hingga urin pagi hari berikutnya.

Cara Memasukkan Urin ke Wadah

Setiap kali buang air kecil, urin harus dimasukkan langsung atau dialihkan ke wadah kecil yang bersih sebelum dituangkan ke wadah 24 jam. Pastikan tidak ada urin yang tercecer agar volume total benar-benar tercatat akurat.

Pentingnya Mencampur Sampel dengan Preservative

Setelah urin dimasukkan ke wadah, wadah sebaiknya digoyang pelan agar sampel tercampur dengan preservative. Hal ini membantu zat aktif dalam preservative bekerja merata mencegah degradasi komponen urin.

Penyimpanan Selama Pengumpulan

Meskipun sudah ada preservative, sebagian besar laboratorium tetap menyarankan agar wadah disimpan di tempat sejuk atau kulkas. Penyimpanan ini mencegah kerusakan zat yang sensitif terhadap suhu tinggi.

Peringatan Keamanan

Preservative umumnya berupa zat kimia yang bisa berbahaya bila terkena kulit atau mata, seperti asam klorida atau formalin. Oleh karena itu, pasien tidak boleh menuangkan atau menyentuh langsung cairan tersebut.

Hal yang Harus Dihindari

Pasien tidak boleh mencampurkan urin dengan bahan lain, membuang atau menambahkan cairan di luar instruksi, maupun menggunakan wadah biasa tanpa preservative. Semua tindakan ini bisa merusak kualitas sampel dan membuat hasil tidak valid.

Kapan Preservative Tidak Diperlukan?

Beberapa tes, misalnya pemeriksaan kadar kreatinin, cukup dilakukan dengan pendinginan. Dalam kasus ini, laboratorium biasanya memberikan instruksi khusus agar pasien menyimpan wadah dalam kulkas sepanjang waktu pengumpulan.

Setelah 24 Jam Pengumpulan

Setelah 24 jam, pasien harus menutup rapat wadah, memberi label identitas sesuai arahan, lalu segera mengirimkan sampel ke laboratorium. Penundaan dapat menurunkan kualitas sampel meskipun sudah ada preservative.

Pentingnya Edukasi Pasien

Dokter dan tenaga laboratorium perlu memberikan penjelasan singkat kepada pasien mengenai fungsi preservative, cara pengumpulan, hingga risiko kesalahan. Edukasi ini penting agar pasien tidak bingung atau melakukan kesalahan selama proses.

Kesimpulan

Penggunaan preservative dalam pengumpulan urin 24 jam adalah langkah penting untuk menjaga keakuratan hasil pemeriksaan. Dengan memahami cara pakai, keamanan, dan pentingnya instruksi laboratorium, pasien dapat membantu memastikan hasil analisis benar-benar mencerminkan kondisi kesehatannya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *